Harga BBM Turun Kembali

Kebijakan pemerintah menurunkan harga bahan bakar minyak jenis Premium dan Solar sebesar Rp 500 per liternya. Salah satu poin penting permintaan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia supaya bisa mengimbangi negara tetangga di ASEAN.

Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Tulus Abadi menyatakan, pihaknya memiliki lima catatan kepada pemerintah menyusul penyesuaian harga BBM dan tarif angkutan umum sebesar 3%.

Catatan pertama, pemerintah perlu secara serius memperbaiki rantai distribusi BBM di luar pulau.
Masalah di luar pulau bukan hanya terjadi pada harga, tapi juga rantai distribusi yang panjang karena kurangnya infrastruktur contoh stasiun pengisian BBM.

Catatan kedua, penurunan harga harus di barengi dengan peningkatan kualitas BBM. Ini adalah momen yang tepat untuk memperbanyak jumlah BBM dengan oktan lebih tinggi.

”Malaysia sekarang ini memasok BBM dengan oktan 95. Sedangkan di Indonesia lebih dari 85% masih dipasok BBM denan oktan 88 atau biasa kita sebut premium. Sedangkan standar Euro adalah dengan oktan 92” tegasnya.

Catatan ketiga Tulus menambahkan, YLKI mendesak pemerintah harus meningkatkan cadangan volume BBM dari momen penurunan harga BBM. Cadangan BBM Indonesia sekarang ini hanya cukup digunakan selama 19 hari saja.

Sangat berbeda dengan negara negara ASEAN termasuk Myanmar yang memilik cadangan BBM untuk tiga bulan. Jepang dan Korea pun, masing masing mempunyai cadangan BBM yang cukup untuk kebutuhan selama lima bulan.

”Kita desak pemerintah untuk meningkatkan cadangan BBM minimal untuk 30 hari lah, Pemerintah harus serius membangun tangki timbun, untuk menyimpan cadangan BBM,” ujar Tulus.

Catatan keempat Kementerian Perhubungan perlu menganalisa ulang tarif angkutan khususnya angkutan dalam kota. Ini harus segera dilakukan supaya membuat kepastian tarif bagi para pengusaha angkutan dan konsumen.

”Catatan terakhir, pemerintah harus konsisten memantau penurunan harga kebutuhan pokok di ritel. Kalau harga BBM turun, tapi bahan makanan tidak turun, pasti ada perilaku nakal dari para pemain pasar, seperti praktik monopoli.” tegas Tulus.

Facebook Comments