Keluarga Korban Sodomi di JIS Melayangkan Surat ke Presiden Jokowi

TebakQQ – Theresia Pipik adalah orang tua korban kasus sodomi siswa JIS yang telah mengirimkan surat ke Presiden Jokowi. Kuasa hukum korban Theresia, Tommy Sihotang, menyebut korban kasus sodomi masih trauma dan menjalani perawatan psikiater. Sehingga Bapak Jokowi diminta untuk memberikan perhatian kepada korban.

“Karena anaknya itu sampai sekarang masih dalam perawatan psikiater. Masih harus dirawat rutin karena trauma yang dialaminya sangat berat,” kata Tommy ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, seperti dilansir Antara, Jumat (19/7/2019). Tomy menyebutkan pihak korban sempat mengajukan gugatan perdata di PN Jaksel. Pendaftaran gugatan perdata itu sekitar setahun yang lalu. Namun gugatan yang saat ini dalam tahap mediasi itu yang berlangsung gagal.

“Mediasinya itu sudah selesai dan gagal, ini sekarang sudah masuk ke substansi jawaban,” katanya. Setelah mediasi menemui kegagalan, menurut Tommy, pihak keluarga korban sangat geram saat mengetahui Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan grasi untuk terpidana kasus sodomi terhadap siswa JIS, Neil Bantleman.

Pihak keluarga ingin Bapak Jokowi lebih memperhatikan kasus ini lebih cermat dengan memberikan perlindungan hukum, maka itu pihak keluarga korban menyurati Bapak Jokowi.

“Begitu kita tahu, kita buat suratnya ke bapak Jokowi langsung. Tolong dong perhatikan anak bangsa ini. Itu yang saya sebutkan tadi, bahkan waktu kasasi hakim memperberat hukumannya ditambah satu tahun karena Neil sudah merusak seorang anak dan berbelit-belit tidak mengakui perbuatannya. Itulah salah satu bukti kami mengajukan perdata,” ujarnya.

Keluarga dari pihak korban, kata Tommy kecewa atas keputusan Bapak Jokowi memberikan grasi untuk Neil. Sebab, apa yang dilakukan Neil tak bisa dimaafkan. “Keluarga korban sangat kecewa, artinya tidak menyangka seorang pedofilia seperti Neil itu dapat pengampunan. Saya kira seluruh dunia orang beradab itu setuju kejahatan mengerikan yang paling memuakkan itu adalah pedofilia. Saya berani sebutkan ini karena itu sudah menjadi kekuatan hukum tetap. Itu sadis itu,” ucapnya.

Sebelumnya diberitakan, Neil Bantleman keluar bebas setelah mendapat grasi dari Presiden Joko Widodo. Grasi itu diberikan lewat Kepres No 13/G Tahun 2019 yang diteken 19 Juni 2019. Berdasarkan UU No. 22 Tahun 2002 tentang Grasi, grasi adalah pengampunan berupa perubahan, peringanan, pengurangan, atau penghapusan pelaksanaan pidana kepada terpidana yang diberikan oleh Bapak Presiden. Kendati begitu, pemberian grasi tak berarti menghilangkan bukti kesalahan dan juga bukan merupakan rehabilitasi terhadap terpidana.

Pada April 2015, PN Jaksel menjatuhkan hukuman 10 tahun penjara kepada penjahat Neil. Vonis itu dianulir oleh Pengadilan Tinggi Jakarta pada Agustus 2015. Baru menghirup udara bebas beberapa bulan, Neil kembali harus masuk penjara lagi. Sebab, pada Februari 2016, MA memutuskan Neil bersalah dan menghukum Neil untuk menghuni penjara dalam waktu 11 tahun lamanya.

Facebook Comments