Kisah Di Zi Gui: Merawat Orangtua Sampai Akhir, Tanpa Meninggalkan Penyesalan

TebakQQ – Di Zi Gui* menyatakan bahwa kita sebagai anak harus membalas budi orang tua yang telah membesarkan kita dan juga harus merawat orang tua kita. Bila mereka sakit, seorang anak diwajibkan merawat mereka siang dan malam. Ketika orang tua kita meninggal, kita harus selalu mengingat mereka dengan rasa terima kasih:

Ketika orang tua sakit, rasakan obatnya.
Jaga mereka siang dan malam,
Tanpa meninggalkan tempat tidur mereka.
Melakukan upacara penguburan;
Lakukan upacara dengan tulus.
Layani yang meninggal
Seperti anda melayani yang hidup.

Teladan moral melayani orang tua ini di terapkan oleh Kaisar Wen dari Dinasti Han Barat, dan guru Wang Pou dari Periode Tiga Kerajaan.

Kaisar Wen mencicipi obat ibunya

Pada masa Dinasti Han Barat di Negara Tiongkok, setelah sang pendiri dinasti, Liu Bang meninggal, tahta diturunkan kepada putranya, Liu Heng. Liu diberi gelar: “Han Wendi” artinya “Kaisar Han yang Terpelajar”. Sebagai raja, ia mempraktikkan tata pemerintahan yang ketat, dan ia mencintai warganya, menggerakkan dan menginspirasi warganya untuk meningkatkan diri melalui pendidikan.

Sementara untuk mengelola urusan negara yang sangat kompleks dan banyak menuntut perhatian, Kaisar Wen masih memiliki waktu untuk melayani ibunya dengan hormat dan berbakti. Dia tidak pernah lalai atau lamban dalam merawat ibunya. Suatu saat, ibunya menderita penyakit serius, segera setelah Kaisar Wen menyelesaikan berbagai urusan pekerjaan pemerintahannya, ia segera meninggalkan kantor pemerintah dan kembali ke rumah dan jaga samping tempat tidur ibunya

Kaisar Wen merawat dengan perawatan yang lembut untuk Ibunya sakit selama tiga tahun penuh, namun perawatannya tidak pernah kenal lelah. Kaisar Wen memperhatikan kondisi ibu selama siang dan malam sepanjang sakitnya, tanpa sedikitpun melonggarkan perhatiannya. Dia tidak pernah merasa stress atau tertekan, menunjukkan rasa bakti dan membalas budi seorang anak.

Perawatan sang kaisar terhadap ibunya begitu teliti, malam hari Kaisar Wen tidur disamping tempat tidur ibunya untuk menjaganya, memastikan semua kebutuhan sang ibu terpenuhi. Segera setelah para pelayan menyiapkan penawar obat apa pun, Kaisar Wen pertama-tama yang akan mencoba obatnya, untuk memastikan obat itu tidak terlalu panas atau terlalu dingin. Ketika sudah pas untuk diminum, Kaisar akan secara pribadi menyendokkan obat untuk ibunya.

Tahun-tahun berlalu, dan Kaisar Wen yang terpelajar merawat ibunya, kisahnya tersebar dari para pelayan sampai ke luar istana, mendapatkan pujian dari semua masyarakat di negara. Seorang pemimpin yang luar biasa, Kaisar Wen juga seorang putra yang paling tidak biasa, berbakti, dan Kaisar Wen menetapkan standar perilaku terhadap orang tua. Orang-orang Tionghoa menghormatinya, dan sangat terpengaruh dan meniru model kebajikannya. Rakyat mulai mempraktekkan rasa hormat berbakti kepada orang tua mereka, dan memperlakukan mereka dengan baik.

Nama Kaisar Terpelajar, Han Wendi, telah diwariskan selama berabad-abad hingga saat ini — orang-orang masih mengagumi model perilaku berbudi luhur dan tidak mementingkan diri sendiri.

Teladan Wang Pou

Wang Pou adalah seorang putra berbakti yang hidup selama Periode Tiga Kerajaan. Ibu Wang takut akan suara guntur, jadi setiap kali langit dipenuhi awan gelap dan hujan akan turun, Wang Pou akan berlari ke sisi ibunya untuk menghibur dan menenangkan ketakutannya.

Setelah ibunya meninggal, Wang Pou menguburkannya di kuburan di samping rumah. Meskipun ibunya itu tidak lagi hidup, setiap kali badai mendekat, Wang Pou teringat ibunya dan mengunjungi makamnya sambil menenangkannya: “Jangan menangis Ibu, putramu ada di dekat sini!”

Wang Pou selalu menekankan dalam pelajaran hidupnya perlunya membalas kebaikan orang tua sementara mereka masih hidup. Wang Pou dianggap sebagai teladan bagi perilaku berbakti, dan penghargaannya yang konstan terhadap ibunya yang telah meninggal menggerakkan hati semua orang yang mendengar kisahnya.

Facebook Comments